Author: Jovie Dhy
•Tuesday, November 27, 2012
Saya tidak tahu bagaimana awalnya sehingga di desa-desa banyak calon Ibu/seorang Ibu yang sangat manja dan cenderung membebankan tugasnya pada suami/orangtua/mertua atau orang terdekatnya disaat mereka sedang hamil maupun setelah melahirkan. Apakah mungkin pengaruh lingkungan yang memanjakan mereka sehingga menjadi tradisi turun temurun bahwa perempuan hamil tidak boleh begini-begitu harus full rest, kemudian setelah melahirkan hanya berbaring-dipijitin-diladeni, dan lain-lain. Karena hal tersebutlah banyak Ibu yang mempunyai anak pertama yang sampai anaknya besar tidak bisa memandikan bayi, sampai anak kedua pun tidak tahu cara merawat bayi, jadi mereka hanya tahu cara-caranya setelah bayi mereka menginjak 7bulan keatas karena hampir semua tugas dibebankan ke orang terdekat mereka dan si Ibu hanya beristirahat.

Maaf, bukan untuk sombong dan memamerkan diri...Karena dari ketika hamil sampai menginjak 8 bulan lebih (mendekati melahirkan), saya tetap beraktifitas, mengerjakan pekerjaan rumah tangga (ngepel, cuci baju, cuci piring, nyetrika, dan saya juga masih berangkat dan pulang kantor naik sepeda motor) kemudian melahirkan jam 5.45pagi beberapa jam sehabis melahirkan, memang masih ada teman menyuapi makan karena badan saya masih lemas, lalu saya ke lantai 2 (kamar yang sudah kami pesan dan sudah dipersiapkan oleh pihak Rumah Bersalin untuk kami istirahat selama 2hari sebelum diantar pulang), karena badan saya masih berkeringat dan rasanya panas semua juga lemas maka saya istirahat (tertidur) sampai jam 1 siang...setelah jam 1 siang saya merasa tenaga sudah pulih lalu teman yang menemani saya pamit pulang dan mulai saya menjaga bayi saya sendiri karena suami harus mondar mandir urus jamsostek, pulang ke kost, dsb. (suami pasti capek banget). Untuk hari pertama-kedua-ketiga (pagi hari aja) pihak Rumah Bersalin yang menghidangkan makanan untuk saya, dan mereka pula yang memandikan bayi. Har kedua saya mencuci popok-popok bayi dan jemur di jemuran yang tersedia di Rumah Bersalin. Hari ketiga pihak rumah Bersalin mengantar kami pulang dan mulailah saya memasak makanan sendiri, cuci baju bayi, mandikan bayi, dan melakukannya sendiri, kadang suami membantu mencucikan-memasakkan, dll. jika saya repot. Jadi, saya merawat sendiri siang hari dan malam hari kadang suami membantu jika tidak kecapekan sepulang kerja. Karena kami jauh dari orang tua juga mertua.

Kakak saya ketika melihat saya sehabis melahirkan langsung bisa jalan kaki dan terlihat biasa aja terheran-heran, saya bilang ke Ibu via telephone juga terheran-heran, menurut kakak saya karena Perawatan di Bali (obat penguat rahim dan vitamin selama hamil) sangat bagus dan beda ama di Jawa jadi si Ibu sehat bugar dan bisa melakukan semua sendiri, tapi menurut saya tidak begitu karena dalam waktu yang hampir bersamaan (sebelum dan sesudah melahirkan) banyak Ibu melahirkan masih belum bisa berbuat apa-apa (dilarang melakukan sesuatu) jadi yang merawat adalah si Ibu mertua/orangtua. So, saya pikir sebenarnya dimanapun daerahnya baik di Jawa maupun di Bali para dokter memberikan vitamin dan dosis yang sama untuk Ibu hamil, tinggal si Ibu hamil mau beraktifitas atau tidak..kemudian dalam hal bermanja-manja ria kalau menurut saya karena lingkungan..para orangtua-lah yang saking sayang-nya sehingga mereka melarang para Ibu hamil beraktifitas dan meminta mereka beristirahat, setelah melahirkan juga lebih-lebih...para orangtua melarang sang anak untuk beraktifitas jadi semua diladeni.

Saat teman-teman menanyakan perihal "siapa yang rawat saat saya melahirkan" saya menjawab : "saya sendiri dan dibantu suami" , mereka menjawab "tak terbayangkan gimana repotnya, belum lagi sakitnya menahan luka jahitan", dan temen-temen yang berkunjung pasca melahirkan melihat saya mencuci baju dan beraktifitas juga mereka bilang : "harusnya suamimu bangun pagi dan mencuci semua baju bayi, juga baju-bajumu", /kenapa semua harus dibebankan ke suami? toh suami sudah cukup membantu...lalu, temen-temen juga pada cerita sampai anaknya umur 7bulan suaminya lah yang mencucikan baju-bajunya dan baju bayi..saya pikir "terus kamu ngapain?" mereka bilang : istirahat. Duh manjanya...

Padahal, jika para orangtua tidak terlalu memanjakan anaknya sebagai calon Ibu seharusnya calon Ibu tersebut bisa melakukan sendiri semuanya, jadi dibantu seperlunya aja. Tidak perlu memanjakannya. Karena saya lihat di Hongkong dulu, seorang Ibu yang baru melahirkan jam 7 pagi, jam 1 siang dia di rumah sendirian dengan si baby dan melakukan aktifitas Rumah Tangga-nya sendiri meskipun saya lihat badannya masih lemas. Jadi, itu berarti rasa sakit setelah melahirkan bukanlah alasan untuk bermanja-manja. Seharusnya kita mampu belajar mandiri, tidak membebankan/merepotkan orang lain, dan kita juga harus ajarkan ke anak-anak kita kelak. Jadi seperti di Luar negeri, mereka calon Ibu meskipun tidak ada pengalaman merawat bayi..mereka berusaha menjadi Ibu seperti saya...hehe

Related Posts by Categories




Photobucket
This entry was posted on Tuesday, November 27, 2012 and is filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Post a Comment